Cara Mengelola Stress Bagi Ibu Baru

Setiap manusia pasti menghadapi satu fase kehidupan yang baru, akan ada adaptasi dan perubahan. Setelah menikah, seorang wanita akan menambah perannya menjadi seorang istri. Setelah menjadi seorang ibu, selain menambah peran, tetapi juga menambah tanggung jawabnya menjadi berkali lipat. Pembahasan ini diperuntukan untuk ibu yang sudah memiliki anak, ibu baru, atau bahkan wanita yang akan menjadi ibu, supaya ada gambaran perubahan apa yang akan dialami saat menjadi ibu baru.

Selama masa kehamilan, seorang ibu akan melewati fase yang menantang, bahkan ada sebagian ibu yang mengalami situasi atau kondisi kesehatan tersendiri. Selain itu, kondisi psikologis yang disebabkan oleh adanya perubahan hormonal dan berbagai hal. Nah, Moms apa aja sih yang dirasakan oleh ibu baru? Yuk, kita simak baik-baik.

  • Bingung 

Kebingungan adalah hal yang pertama kali dirasakan saat menjadi ibu baru. Kalau yang ringan dimulai dari kebingungan saat akan mengambil keputusan, karena belum pernah menghadapi situasi tersebut. Jika sebelumnya hanya mendengarkan pengalaman orang lain atau membaca di artikel, maka ketika ibu baru menghadapi situasi ini akan mengalami kebingungan. 

Terlebih dengan adanya tuntutan-tuntutan karena penilaian lingkungan sekitar, seperti pembelian susu formula dianggap sebagai ibu baru yang kurang peduli sama bayi. Nah, jika menghadapi hal ini, harus melihat dahulu alasannya, seperti adanya saran dokter, kondisi tertentu atau berdasarkan pertimbangan.

Penilaian dari lingkungan sekitar akan berdampak pada ibu baru yang meragukan bahwa dirinya sudah menjadi ibu yang baik. Ditambah dari banyaknya saran dari orang tua maupun keluarga besar, sehingga ibu baru bingung dan tidak tahu saran mana yang harus diikuti. 

Apalagi ketika ibu baru berada di masa pandemi, ia akan merasakan secluded atau keterbatasan ruang gerak yang akan merasa kesepian dan membutuhkan dukungan dari suami. Saat suami belum bisa memenuhi harapan ibu baru, maka akan timbul perasaan kecewa. Belum lagi saat bayi mengalami masalah atau kondisi tertentu. Itu semua mendatangkan situasi yang disebut overwheel atau terlalu banyak bebannya. 

Ketika seorang ibu baru mengalami masa pemulihan, biasanya sampai masa nifas selesai. Di waktu yang sama, ibu baru yang begadang dan kurang tidur pasti akan membuat tubuh menjadi lelah, mudah emosi, dan sulit berpikir logis. Misalnya, saat orang lain mengatakan dengan netral, ibu baru menganggapnya negatif. Hal-hal seperti ini akan menumpuk beban ibu baru sampai ada dititik tidak kuat menanggungnya menyebabkan breakdown.

  • Baby Blues Syndrome

Baby blues syndrome merupakan kondisi psikologis dimana ibu merasa beban emosional yang berat dan terjadi pada ibu-ibu pasca melahirkan karena kondisi tertentu, karena banyak faktor penyebabnya bisa dari hormon, kesehatan, masa pemulihan yang bisa menyebabkan seperti itu, sehingga merasa sulit atau tidak mungkin untuk melakukan hal-hal kesehariannya yang seharusnya dia lakukan untuk diri sendiri, seperti kehilangan nafsu makan, begadang dan susah tidur, menangis terus-menerus. Sedangkan ibu menyusui membutuhkan hormon-hormon yang membuatnya happy dan rileks, ketika ibu mengalami baby blues syndrom akan menghambat proses mengasihi dan mengalami stres karena asinya terhambat.

Seorang ayah tidak bisa terkena baby blues syndrome, melainkan gangguan ringan, seperti adanya adaptasi, tuntutan, merasa kebingungan saat ingin membantu istri. Ditambah ketika lingkungan meragukan sang ayah bisa membantu ibu, padahal si ayah mau belajar. 

Dampak buruk bagi baby blues syndrome dalam jangka pendek, yaitu ibu baru menjadi kurang tidur, emosian, dan setress. Hal ini bisa menyebabkan saat mengasihi atau pumping hormonnya terhambat, sehingga menjadi susah menyusui, lalu marah-marah, bahkan ibu menjadi tidak optimal dalam mengasuh bayinya dan semakin menimbulkan down.

Hal ini dapat berujung menjadi jangka panjang, yaitu menjadi trauma dan takut hamil. Jika ada kasus seperti ini, harus mengetahui terlebih dahulu apa yang membuat takut dan trauma mendalam. Sebagai contoh ada kasus preeklampsia yaitu hipertensi dalam kehamilan. Hal ini bisa menyebabkan seorang ibu yang berencana lahiran normal, namun harus cepat-cepat di operasi caesar (sesar), sehingga bayinya menjadi lahir prematur, berat badan rendah, dan berujung di NICU. hal tersebut bisa mendatangkan trauma tersendiri. Lantas, jika sudah terjadi seperti ini, yang dilakukan adalah selalu menjaga makanan yang dikonsumsi, aktivitas yang harus dilakukan, dan sebelum kehamilan bisa konsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi (Obgin) dan ceritakan traumanya. Di sisi lain, harus ada support system dari lingkungan terdekat, seperti suami, orang tua, kakak atau adik, dan sahabat. Bahkan jika traumanya sudah mendalam, bisa membutuhkan konseling. 

 

Lalu, bagaimana cara mengelola stress pasca melahirkan?

  • Mencari Support System

Seorang ibu harus mencari support system. Peran suami sangat penting untuk membantu dukungan mental ibu, karena akan ada hambatan-hambatan yang terjadi dan saat ingin mengambil keputusan. Kalau ada hal yang belum tepat dilakukan saat ini, bisa dijadikan pembelajaran di kemudian hari. Jika suami sedang berjauhan atau ldr, bisa mencari support system dari yang terdekat seperti orang tua, mertua, adik atau kakak, bahkan sahabat untuk membantu dalam satu periode waktu tertentu. Sampaikan juga ingin dibantu berapa lama dan bantuannya seperti apa. Suami juga bisa memberikan dukungan dari jauh dengan memfasilitasi kebutuhan yang diperlukan, seperti mencarikan keperluan bayi melalui marketplace atau membeli makanan melalui aplikasi ojek online

  • Me Time

Seorang ibu baru sangat normal jika membutuhkan waktu untuk me time, terlebih sedang mengalami fase yang luar biasa. Caranya dengan memilih me time yang memungkinkan. Hal ini tidak seperti me time yang dilakukan seperti dahulu, melainkan menjadi lebih singkat. Jika dulu kalau me time memilih untuk shopping ke mall, kalau sekarang bisa menyediakan waktu 15 menit untuk belanja di marketplace, tanpa diganggu. Hal yang terpenting adalah cobalah untuk ungkapkan ke orang sekitar agar mendapatkan dukungan dan bantuan dalam menangani bayi saat sedang melakukan me time agar tidak terganggu.

  • Update Informasi

Banyak ibu yang menjadi stres lantaran banyaknya mitos yang berasal dari ibu kandung maupun ibu mertua. Sebenarnya dengan adanya perbedaan generasi, membuat pengetahuan yang dimiliki menjadi berbeda. Misalnya, MPASI di jaman dulu dimulai saat bayi berusia 3 bulan, sementara di masa sekarang MPASI dimulai saat bayi berusia 6 bulan dan mengacu pada dokter spesialis anak. Cara komunikasikan dengan mereka melalui sharing artikel tentang topik yang lagi didebatkan, sehingga orangtua juga menjadi mengikuti perkembangan informasinya. Bisa juga dengan mengajak saat kontrol ke dokter sebagai bentuk menghargai agar orangtua mengikuti perkembangan. 

  • Ikuti Parenting Class

Saat ibu hamil sudah mempersiapkan diri agar tidak terkena baby blues syndrome, namun ternyata pasca kelahiran mengalami baby blues syndrome. Dengan begitu, saat ibu baru menghadapi situasi seperti ini akan lebih mudah saat sudah ada persiapannya, seperti mengikuti kelas parenting, kelas menyusui, dan lain-lain. Boleh juga mengajak calon ayah untuk mengikuti kelasnya

Maka, sadari kondisi diri sendiri saat membutuhkan rehat atau bantuan dan komunikasikan ke lingkungan terdekat, seperti suami atau keluarga. Kemudian, sadari bahwa pengasuhan melibatkan ke keluarga besar dengan adanya perbedaan pendapat dan bisa dikelola dengan memperbarui informasi. 

 

Referensi :

Marcelina Melisa, M.Psi. (Psikolog Anak dan Remaja Tiga Generasi, Brawijaya Clinic Kemang, Klinik Ichsan Bintaro). Cara Mengelola Stress Bagi Ibu Baru https://www.instagram.com/tv/CXvuQW7pkaH/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Klik salah satu Customer Service kami pilih reseller jika anda reseller, pilih customer biasa jika anda customer