Mom Shaming

“Kok anaknya kurus banget sih?”, “Kok kamu kerja, bukannya ngurus anak?”, “Kamu udah kuliah tinggi-tinggi, kok di rumah aja?”

Kalimat-kalimat tersebut merupakan contoh dari kalimat Mom Shaming. Namun, sebenarnya Mom Shaming itu apa sih? 

Mom shaming adalah bentuk kritikan, nasihat atau komentar dari orang sekitar Moms yang sebenarnya mengomentari berbagai cara Moms mengasuh atau mengurus rumah tangga. Jangankan Mom Shaming, kita sendiri belum siap untuk menghadapi kritikan secara umum karena banyaknya faktor yang terjadi. Terutama seorang ibu yang baru melahirkan dan seorang perempuan yang sedang mengalami siklus menstruasi, secara hormonal akan jauh lebih sensitif.

Secara umum, mom shaming adalah bentuk dari insecurity yaitu kebernilaian diri yang rendah. Jadi ketika dia mengkritik cara orang lain, pada dasarnya dia ingin merasa lebih tinggi dari Moms yang dikritik. Hal ini adalah bentuk insecurity yang dialami, sehingga berusaha menjatuhkan orang lain agar merasa lebih baik, sehingga memungkinkan korban menjadi pelaku.

Jika yang melakukan mom shaming adalah orang yang tidak dikenal, Moms tidak usah didengarkan dan pergi dari orang tersebut yang tentunya dapat memberikan dampak buruk, karena mereka tidak valid untuk mengatakan hal-hal tersebut. Namun, jika pada kenyataannya yang melakukan mom shaming adalah orang terdekat seperti ibu dan mertua, yang perlu dilakukan adalah perlunya ada klarifikasi. Misalnya saat Moms tidak mengizinkan si kecil menonton, lalu orang tua Moms memprotes saat si kecil tidak diizinkan menonton. Hal ini yang perlu diklarifikasi dan meminimalisir adanya miss communication yang akan terjadi. Mom bisa berikan penjelasan mengapa melarang si kecil untuk menonton dan apa dampaknya. Jika Moms merasa begitu berat untuk klarifikasi, bisa minta tolong Dads untuk membantu. Jika Dads juga tidak sanggup, Moms bisa minta bantuan ke tenaga profesional yang lebih bisa didengar.

Saat berhadapan dengan orangtua, hal ini memang tidak mudah, jangan sampai terbawa emosi, karena tujuan Moms adalah untuk mengedukasi, supaya pola orangtua juga bisa ter-update informasi yang didapatkannya.

Cara menghadapinya?

Do it elegant way, karena kalau saat Moms diserang dan Moms menyerang balik dengan nada tinggi. Orang tersebut justru akan bersikap defensif, yaitu orang tersebut bisa menyerang balik atau justru menyerang dari belakang. Langkah paling jitu adalah tetaplah tenang, sehingga Moms tidak membabi buta.

Terkadang afirmasi bisa berdampak kita tidak bisa melihat realita. Afirmasi yaitu kita meyakinkan diri kita baik-baik saja, dengan mensugesti diri sendiri. Bisa jadi apa yang dikatakan oleh orang lain itu benar. Namun, kembali lagi, orang yang mengatakan itu siapa? Pertama, apakah orang yang valid dan bisa dipercaya omongannya? Misalnya yang berbicara adalah tenaga profesional, itu pantas didengarkan. Namun, jika hanya orang yang tidak dikenal, biarkan saja.

Kedua, selalu fokus terhadap apa yang bisa Moms kontrol. Kalau Moms selalu ingin mengontrol omongan orang di sekitar Moms, justru itu akan menimbulkan frustasi. Fokus dengan apa yang bisa Moms kontrol dan lakukan.

Ketiga, perlu digali mengapa sangat menyakitkan? Apakah yang ngomong itu orang terdekat? Atau orang yang sudah terlanjur Moms percaya? Bisa juga karena orang tersebut menyenggol hal-hal penting yang menyinggung Moms. 

Terakhir, kalau begitu menyakitkan, datanglah ke psikolog dan jangan dihadapkan sendiri.

Selain menjadi korban, kita juga bisa menghindari menjadi pelaku Mom Shaming loh, Moms. Cara mencegahnya adalah berlatih empati untuk fokus terhadap orang lain, jangan fokus terhadap diri sendiri. Ketika kita paham yang terjadi terhadap kehidupan seorang Ibu, maka kita tidak akan menjatuhkan ibu tersebut dan kita terhindar dari Mom Shaming.

Referensi :

Firman Ramdhani, Psikolog (Psikolog Klinis). Mom Shaming https://www.instagram.com/p/CaCgYkBJqOH/

Klik salah satu Customer Service kami pilih reseller jika anda reseller, pilih customer biasa jika anda customer